Dari PES ke eFootball: Kenapa Konami "Ganti Nama"? Ternyata Ini Alasan Logisnya!


Dari PES ke eFootball: Kenapa Konami "Ganti Nama"? Ternyata Ini Alasan Logisnya!
Buat kamu anak rental yang suka bolos sekolah (hehe) atau yang hobi mabar di HP, pasti sempat kaget waktu nama legendaris Pro Evolution Soccer (PES) tiba-tiba hilang dan berubah jadi eFootball. Banyak yang kecewa, tapi nggak sedikit juga yang malah makin ketagihan juga.
Sebenarnya, apa sih yang bikin Konami nekat buang nama besar PES yang sudah melekat sama pecinta game sepakbola Indonesia tuh? Yuk, kita bedah sejarah dan alasan di baliknya dengan bahasa yang santai!

1. Evolusi dari "Beli Game" ke "Gratisan" (Free-to-Play)
Dulu, kalau mau main PES seri terbaru, kita harus beli kaset atau file game-nya tiap tahun. Sekarang, Konami banting setir.
eFootball hadir dengan konsep Free-to-Play. Kamu tinggal download sekali, dan game-nya bakal terus di-update tanpa kamu harus beli game baru lagi di tahun depan. Strategi ini bikin eFootball lebih gampang diakses sama siapa aja, termasuk gamer yang budget-nya mepet!

2. Ganti Engine: Demi Mabar Lintas Perangkat
Dulu PES pakai Fox Engine. Sekarang, eFootball pindah ke Unreal Engine. Kenapa?
 * Cross-Platform: Biar gamer di HP (Android/iOS) bisa mabar sama yang di PC atau Konsol (PS/Xbox).
 * Efisiensi: Konami nggak perlu ribet bikin aset game yang beda-beda buat tiap perangkat. Cukup satu basis data, bisa jalan di mana aja.

3. Rahasia Umum: Cuan dari Microtransaction
Mari jujur-jujuran, Konami itu perusahaan bisnis.  Di era PES, mereka dapat duit dari jualan kaset.
Di era eFootball, mereka dapat duit dari Koin eFootball.
Walaupun game-nya gratis, sistem "gacha" buat dapetin pemain Epic atau Big Time terbukti bikin Konami makin kaya raya. Bayangin, pendapatan dari versi mobile-nya aja bisa tembus triliunan rupiah! Jauh lebih gede dibanding jualan kaset PES jaman dulu.

4. Fokus ke eSport dan Komunitas Online
Konami pengen eFootball jadi platform global buat kompetisi. Dengan sistem satu game yang terus di-update, para atlet eSport nggak perlu adaptasi ulang tiap tahun kayak zaman PES. Mekanik permainannya bakal tetap sama, cuma kartu pemainnya aja yang makin banyak pilihan.

"Tapi kok Master League Hilang?"
Nah, ini yang bikin banyak pemain veteran baper. Demi ngejar pasar online dan mobile, mode-mode offline legendaris kayak Master League atau Become a Legend emang dianaktirikan.
Sekarang, fokus utamanya adalah mode Dream Team, di mana kamu ngeracik tim impian buat adu mekanik sama orang lain secara online. Memang jadi lebih kompetitif dan kadang bikin stres, beda sama PES yang lebih santai buat seru-seruan bareng teman di rental.

Kesimpulan: PES Nggak Akan Kembali?
Sepertinya kecil kemungkinan Konami balik ke nama PES. Secara bisnis, eFootball adalah tambang emas buat mereka. Meski grafis dan fiturnya sempat dihujat pas awal rilis (eFootball 2022)dan banyak user e-football yang bilang jika tahun 2022 itu adalah masa kegelapan bagi E-Football , sekarang game ini sudah jauh lebih stabil dan punya jutaan pemain aktif tiap harinya.
Kalau kamu sendiri gimana? Masih tim "Kangen PES" yang main offline, atau sudah jadi "Suhu eFootball" yang hobi gacha pemain Epic? Atau jadi player BANSOS?


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama